Suku Banjar
Pengertian
Suku banjar
yang merupakan salah satu suku di Kalimantan. Memang suku ini tidak terlalu
dominan dibandingkan suku Dayak. Memang dari segi populasi lebih sedikit
daripada suku Dayak, dan hanya banyak mendiami di daerah Kalimantan Selatan. Sejak abad ke-17 mulai menempati sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur terutama kawasan dataran dan bagian hilir dari Daerah
Aliran Sungai (DAS) di wilayah tersebut. Suku Banjar terkadang juga disebut
Melayu Banjar, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan.
Sejarah Suku Banjar
Suku Banjar(bahasa Banjar: Urang Banjar) atau Oloh Masih adalah suku bangsa atau etnoreligius muslim yang
menempati sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, dan sejak abad ke-17 mulai
menempati sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur terutama kawasan dataran rendah dan bagian hilir dari Daerah Aliran
Sungai (DAS) di wilayah tersebut. Suku Banjar terkadang juga disebut Melayu
Banjar, tetapi penamaan tersebut jarang digunakan. Suku bangsa Banjar berasal
dari daerah Banjar
yang merupakan pembauran masyarakat DAS Bahau (koreksi: DAS Bahan/DAS Negara),
Das Barito, DAS Martapura dan DAS Tabanio. Sungai Barito bagian hilir merupakan
pusatnya suku Banjar. Kemunculan suku Banjar bukan hanya sebagai konsep etnis
tetapi juga konsep politis, sosiologis, dan agamis. Sejak abad ke-19, suku
Banjar mulai bermigrasi ke banyak tempat di Kepulauan
Melayu dan mendirikan kantong-kantong pemukiman di sana.
Asal usul suku Banjar
Suku bangsa Banjar diduga berintikan penduduk asal Sumatera atau daerah
sekitarnya, yang membangun tanah airbaru di kawasan ini sekitar lebih dari
seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa yang lama sekali
akhirnya,-setelahbercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasa
dinamakan sebagai suku Dayak, dan denganimigran-imigran yang berdatangan
belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu
(Banjar)Pahuluan,(Banjar) Batang Banyu, danBanjar (Kuala).
·
Banjar Pahuluan
Orang
Pahuluanpada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai
Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami lembah
sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar
Banjarmasin (dan Martapura). Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa
Banjar, yang pada asasnya adalah bahasa Melayu Sumatera atau sekitarnya-, yang
di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal Jawa. Nama Banjar
diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860, adalah warga
Kesultanan Banjarmasin atau disingkatBanjar, sesuai dengan nama ibukotanya pada
mula berdirinya. Ketika ibukotadipindahkan ke arah pedalaman, terakhir di
Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubahlagi.
Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton
yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi
setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan
Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja.
Perilaku raja ini diikuti elit ibukota,masing-masing tentu menjumpai penduduk
yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami
lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang dikembangkannya,
suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku Banjar,
yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka lebih
dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup bertetangga
tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak berbaur.Jadi
meskipun kelompok
suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat, yang mungkin
tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun
masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri.Untuk kepentingan
keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku
Banjarmembentuk komplek pemukiman tersendiri.Komplek pemukiman cikal bakal
suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan komplek pemukiman bubuhan
, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang berwibawa sebagai
kepalanya, dan warga kerabatnya,dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga
lain yang bergabung dengannya.Model yang sama atau hampir sama juga terdapat
pada masyarakat balai di kalangan masyarakat Dayak Bukit , yangpada asasnya
masih berlaku sampai sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di
Pegunungan Meratus ininampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar,
dan di daerah inilah konsentrasi penduduk yang banyak sejak zaman kuno,
dan daerah inilah yang dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas
menggambarkan terbentuknya masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan
kemungkinan adanya unsur Dayak Bukit ikut membentuknya.
·
Banjar Batang Banyu
Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan
dengan terbentuknya pusat kekuasaan yangmeliputi seluruh wilayah Banjar, yang
barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu
sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan
kebanggaan tersendiri, sehinggamenjadi kelompok penduduk yang terpisah.Daerah
tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari suku
Dayak Maanyan dan Lawangan , sehingga diduga banyak yang ikut serta membentuk
subsukuBatang Banyu, di samping tentu sajaorang-orang asal Pahuluan yang
pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar. Bila diPahuluan
umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di antara penduduk
Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan pengrajin.
·
Banjar Kuala
Ketika pusat
kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan
Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu
(dibawa) pindah ke pusat kekuasaan yang baru ini dan, bersama-sama dengan
penduduk sekitar keraton yang sudah ada sebelumnya, membentuk subsuku Banjar.
Di kawasan ini mereka berjumpa dengan sukuDayak Ngaju, yang seperti halnya
dengan dengan masyarakatDayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau
Lawangan, banyak di antara mereka yang akhirnya meleburke dalam masyarakat
Banjar, setelah mereka memeluk agama Islam. Mereka yang bertempat tinggal di
sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya yang dinamakan atau
menamakandirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat Pahuluan dan
masyarakat Batang Banyu
biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal dari) kota-kota kuno yang
terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah Banjar, mereka itu tanpa
kecuali mengaku sebagai orang Banjar.
(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul Masyarakat Banjar)
Sistem kekerabatan
Waring
|
↑
|
Sanggah
|
↑
|
Datu
|
↑
|
Kai (kakek) +
Nini (nenek)
|
↑
|
Abah (ayah) +
Uma (ibu)
|
↑
|
Kakak <
ULUN > Ading
|
↓
|
Anak
|
↓
|
Cucu
|
↓
|
Buyut
|
↓
|
Intah/Muning
|
Bagi ULUN juga terdapat panggilan untuk saudara dari ayah atau ibu, saudara tertua disebut Julak, saudara kedua disebut Gulu, saudara berikutnya disebut Tuha, saudara tengah dari ayah dan ibu disebut Angah, dan yang lainnya biasa disebut Pakacil (paman) dan Makacil (bibi), sedangkan termuda disebut Busu. Untuk memanggil saudara dari kai dan nini sama saja, begitu pula untuk saudara datu.
Disamping istilah di atas masih ada pula sebutan lainnya, yaitu:
· minantu (suami / isteri dari anak ULUN)
· pawarangan (ayah / ibu dari minantu)
· mintuha (ayah / ibu dari suami / isteri ULUN)
· mintuha lambung (saudara mintuha dari ULUN)
· sabungkut (orang yang satu Datu dengan ULUN)
· mamarina (sebutan umum untuk saudara ayah/ibu dari ULUN)
· kamanakan (anaknya kakak / adik dari ULUN)
· sapupu sakali (anak mamarina dari ULUN)
· maruai (isteri sama isteri bersaudara)
· ipar (saudara dari isteri / suami dari ULUN)
· panjulaknya (saudara tertua dari ULUN)
· pambusunya (saudara terkecil dari ULUN)
· badangsanak (saudara kandung)
Untuk memanggil orang yang seumur boleh dipanggil ikam, boleh juga menggunakan kata aku untuk menunjuk diri sendiri. Sedangkan untuk menghormati atau memanggil yang lebih tua digunakan kata pian, dan kata ulun untuk menunjuk diri sendiri.
Bahasa
Bahasa Banjar merupakan bahasa ibu
Suku Banjar. Bahasa ini berkembang sejak zaman Kerajaan Negara Dipa dan Daha yang bercorak Hindu-Buddha hingga
datangnya agama Islam
di Tanah Banjar.
Banyak kosakata-kosakata bahasa ini sangat mirip dengan Bahasa Dayak,
Bahasa Melayu,
maupun Bahasa Jawa.
Rumah Banjar
Rumah Banjar
adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya
antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental,
dekoratif dan simetris. Rumah tradisonal Banjar adalah tipe-tipe rumah khas
Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai berkembang sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Dari sekian banyak
jenis-jenis rumah Banjar, tipe Bubungan
Tinggi merupakan jenis rumah Banjar yang paling dikenal dan menjadi
identitas rumah adat suku Banjar.
Tradisi lisan
Tradisi lisan oleh Suku Banjar sangat dipengaruhi oleh
budaya Melayu,
Arab,
dan Cina.
Tradisi lisan Banjar (yang kemudian hari menjadi sebuah kesenian) berkembang
sekitar abad ke-18 yang di antaranya adalah Madihin
dan Lamut.
Madihin berasal dari bahasa Arab, yakni madah (ﻤﺪﺡ) yang artinya
pujian. Madihin merupakan puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan
atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental
tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor
Banjar di Kalsel. Sedangkan Lamut adalah sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita
tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut
berasal dari negeri Cina
dan mulanya menggunakan bahasa Tionghoa. Namun, setelah dibawa ke Tanah Banjar
oleh pedagang-pedagang Cina, maka bahasanya disesuaikan menjadi bahasa Banjar
Teater
Satu-satunya seni teater tradisional yang berkembang
di pulau Kalimantan adalah Mamanda.
Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan
yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari
segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini
membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang
disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup.
Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman
ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian
Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana
Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua,
Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).
Tokoh-tokoh ini wajib ada dalam setiap Pementasan.
Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda sering pula ditambah dengan
tokoh-tokoh lain seperti Raja dari Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni dan
tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita.
Disinyalir istilah Mamanda digunakan karena di dalam
lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan
sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. Mamanda secara
etimologis terdiri dari kata “mama” (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar
dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat.
Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau
kekeluargaan.
Musik
Salah satu kesenian berupa musik tradisional khas Suku
Banjar adalah Musik Panting. Musik ini disebut Panting karena
didominasi oleh alat musik yang dinamakan panting, sejenis gambus yang memakai
senar (panting) maka disebut musik panting. Pada awalnya musik panting berasal
dari daerah Tapin, Kalimantan Selatan. Panting merupakan alat musik yang
dipetik yang berbentuk seperti gabus Arab tetapi ukurannya lebih kecil. Pada
waktu dulu musik panting hanya dimainkan secara perorangan atau secara solo.
Karena semakin majunya perkembangan zaman dan musik panting akan lebih menarik
jika dimainkan dengan beberapa alat musik lainnya, maka musik panting sekarang
ini dimainkan dengan alat-alat musik seperti babun, gong,dan biola dan
pemainnya juga terdiri dari beberapa orang. Nama musik panting berasal dari
nama alat musik itu sendiri, karena pada musik panting yang terkenal alat musik
nya dan yang sangat berperan adalah panting, sehingga musik tersebut dinamai
musik panting. Orang yang pertama kali memberi nama sebagai musik panting
adalah A. SARBAINI. Dan sampai sekarang ini musik panting terkenal sebagai
musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan.
Selain itu, ada sebuah kesenian musik tradisional Suku
Banjar, yakni Musik Kentung. Musik ini berasal dari daerah Kabupaten
Banjar yaitu di desa Sungai Alat, Astambul dan kampung Bincau, Martapura. Pada masa sekarang,
musik kentung ini sudah mulai langka. Masa dahulu alat musik ini
dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga
hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik
ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding
Tarian
Seni Tari Banjar terbagi menjadi dua, yaitu seni tari
yang dikembangkan di lingkungan istana (kraton), dan seni tari yang
dikembangkan oleh rakyat. Seni tari kraton ditandai dengan nama “Baksa” yang
berasal dari bahasa Jawa (beksan) yang menandakan kehalusan gerak dalam tata
tarinya. Tari-tari ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu, semenjak zaman hindu,
namun gerakan dan busananya telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi dewasa
ini. Contohnya, gerakan-gerakan tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan adab
islam mengalami sedikit perubahan.
Kuliner
Masakan tradisional Banjar diantaranya: sate Banjar,
soto Banjar, kue bingka dan lain-lain.
Senjata Tradisional
Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan orang yang
pernah memakainya, senjata tradisional suku banjar yang biasa digunakan dalam
kehidupan sehari-hari antara lain :
- 1. Serapang
Serapang adalah tombak bermata lima mata dimana empat
mata mekar seperti cakar elang dengan bait pengait di tiap ujungnya. Satu mata
lagi berada di tengah tanpa bait, yang disebut “besi lapar” yang di percaya
dapat merobohkan orang yang memiliki ilmu kebal sekuat apappun.
- 2. Tiruk
Tiruk adalah tombak panjang lurus tanpa bait digunakan
untuk berburu ikan haruan (ikan gabus) dan toman di sungai.
- 3. Pangambangan
Pangambangan adalah tombak lurus bermata satu dengan
bait di kedua sisinya.
- 4. Duha
Duha adalah pisau bermata dua yang sering digunakan
untuk berburu babi.
Tokoh-tokoh Banjar
- Pangeran Antasari, Pahlawan Nasional Indonesia.
- Hasan Basry, Pahlawan Nasional Indonesia.
- Idham Chalid, Pahlawan Nasional Indonesia.
- Pangeran Hidayatullah, Pahlawan Perang Banjar.
- Pangeran Muhammad Noor, mantan menteri PU/Gubernur Kalimantan ke-1
- Prof. Gusti Muhammad Hatta, menteri Riset dan Teknologi.
- Drs. Saadillah Mursjid, MPA, mantan Menteri Sekretaris Kabinet Pembangunan VII
- Djohan Effendi, mantan Menteri Sekretaris Kabinet era Gus Dur, penulis pidato Presiden Soeharto.
- Syamsul Mu’arif, mantan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Gotong Royong
- Taufiq Effendi, mantan menteri PAN
- Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama Banjar.
- Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, ulama Banjar.
- Muhammad Zaini Abdul Ghani, ulama dan tokoh Islam Indonesia.
- K.H. Muhammad Arifin Ilham, Ketua Majelis Zikra.
- K.H. Muhammad Thoha Ma’ruf, Tokoh NU
- Fakhruddin, politisi dan mantan Bupati Hulu Sungai Utara
- Syeikh Husein Kedah Al Banjari, mantan mufti Kerajaan Kedah
- Dato Seri Harussani bin Haji Zakaria, mantan Mufti Kerajaan Negeri Perak
- Velix Wanggai
5 Fakta Orang Banjar
Berikut ulasan 5 fakta tentang
orang Banjar, diantaranya :1. Orang Banjar itu Agamis
Liat saja disetiap kampung dari hilir sungai hingga hulu sungai yang namanya langgar atau mushola hampir tiap 10 meter, Mesjid juga dimana-mana ada. Orang Banjar sangat menghormati ulama, guru agama. Dulu gadis2 banjar pantang keluar rumah dengan kepala terbuka kalo ngga pake kerudung minimal ditutupi handuk kalo mau pergi ke warung.
2. Orang Banjar itu humoris
Orang banjar itu identik suka ngobrol dan punya sense of humor yang tinggi, Orang banjar selalu kelihatan ramai dan ceria, tidak di warung di sekolah, di jalanan, dimana saja hingga debat pilkadapun harus ada humor ala Banjar yg kocak abizzz….Makanya orang Banjar punya istilah “mealabiu” asal kata ini di dapat dari daerah Alabio yang terkenal orangnya kocak-kocak dan doyan bercanda. dari yg sopan hingga yg menyerempet-nyerempet ke hal-hal “pribadi”. Susah menceritakan kocaknya kita, kalo kamu berkunjung atau tinggal di banjarmasin lihat sekumpulan remaja, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, kakek-nenek pada ketawa dan saling tik-tok bicara ditanggung mereka lagi ngobrol dan “ngebanyol bareng”. Apalagi kalo sudah terkeluar katakata ” mengalabuaw”, “mewadai”, “ketukialas!”, “mewaluhi”, “membunguli”,
3. Orang Banjar itu hobby makan
Selain makanan Banjar itu luar biasa enaknya jumlahnya juga tiada terhingga saking banyaknya. Mau makanan serba “Baubar” (Bakar, papuyu bakar, bawal bakar, gabus bakar, sayurnya (gangan) macam2 gangan tungkul (tongkol pisang), gangan keladi ( dari bonggol keladi), gangan nangka, gangan ketuyung (sejenis siput sungai) dll, belum lagi soto Banjar, Ayam masak habang (merah), nasi kuning Banjar, ketupat kandangan, mandai (asinan kulit cempedak), kue-kue yg ada 40 macam seperti bingka, bingka berandam, pais pisang, amparan tatak, kakikcak, kalalapon, dll, sederet bubur baras, bubur gunting, bubur randang, bubur habang bubur putih, kalo ingin melihat semua makanan Banjar datang aja ke Pasar Ramadhan yg buka di Kal-sel dan khususnya Banjarmasin, Insya allah ngga bakalan rugi, ngga warung tepi jalan hingga restauran penuh pengunjung apalagi kalo jam makan atau hari libur. Kita juga suka mencoba makan-makanan baru, kalo ada makanan Jawa dicoba, makanan Bugis dicoba, makanan sunda, dicoba lagi, makanan jepang, cina, malaysia.
4. Orang Banjar itu setia kawan
Orang Banjar itu kelihatannya dari luar orangnya sedikit garang kalo bicara nyaring dengan volume suara tinggi, tapi hatinya lembut dan tidak tegaan kalo udah punya teman mereka akan setia kawan dan royal pada teman. Orang Banjar kadang seolah-olah cepat marah tapi cepat juga memaafkan. Kita juga suka terus terang dan apa adanya.
5. Orang Banjar itu bungas-bungas
Bungas itu artinya cantik dan ganteng. Wah kalo liat cewek-cowok Banjar yg berseliweran di Jalan seakan melihat para bintang sinetron abis cantik-cantik dan ganteng-ganteng. baik yg asli banjar maupun yang campuran dayak, Arab, Jawa, Bugis, hingga Cina. Kulitnya putih kuning hingga sawo matang dan wajah kita cenderung oval, mata belo dan bulu mata lentik dan alis tebal.
Sumber






No comments:
Post a Comment