JURNAL 1
JUDUL :PENGARUH HARGA, PRODUK, DAN PROMOSI TERHADAP VOLUME PENJUALAN SEPEDA
MOTOR HONDA
OLEH
:Rizky Ardiansyah, Winarningsih
REVIEW
LATAR BELAKANG
Pada era globalisasi sekarang, segala sesuatu berjalan dan berkembang
dengan pesat. Cepatnya laju pertumbuhan ekonomi dewasa ini diikuti dengan
banyaknya perusahaan, hal ini akan mendorong adanya persaingan,terutama bagi
perusahaan yang bergerak dalam bidang sejenis. Akibat adanya persaingan
tersebut,baik langsung maupun tidak langsung perusahaan terpengaruh dalam hal
memasarkan produk-produk atau barang-barang yang di hasilkan, sehingga tingkat
persaingan menunjukan tendensi yang meningkat, karena itu setiap perusahaan
dengan berbagai cara berusaha untuk di terima oleh konsumen.
Dengan demikian hal ini mengharuskan para pengusaha untuk selalu mengikuti
perubahan-perubahan yang terjadi dan semaksimal mungkin mencari tehnik-tehnik
baru dan cara untuk meningkatkan volume penjualan, karena semakin padatnya
persaingan antara sesama perusahaan yang menghasilkan produk-produk sejenis,
maka perusahaan dalam memproduksi suatu produk haruslah dapat berusaha untuk
menarik dan memberi kepuasan kepada konsumen dengan berbagai cara, sehingga
perusahaan dapat mencapai laba yang maksimal serta volume penjualan yang
tinggi, yang merupakan tujuan perusahaan.
Pada umumnya setiap perusahaan dalam menjalankan aktifitasnya, selalu
berusaha menggunakan potensi yang semaksimal mungkin guna mencapai tujuan yang
telah di tetapkan, adanya suatu permasalahan yang di hadapi oleh perusahaan
sepeda motor (honda) pada dealer sepeda motor honda Panji Perkasa Perdana Motor
adalah mengenai pengaruh harga, produk, dan promosi terhadap peningkatan volume
penjualan.
TUJUAN
Tujuan penelitian ini yaitu:
(1) Untuk mengetahui apakah harga, produk dan promosi secara simultan
berpengaruh terhadap volume penjualan sepeda motor;
(2) Untuk mengetahui apakah harga, produk dan promosi secara parsial
berpengaruh terhadap volume penjualan sepeda motor;
(3) Untuk mengetahui manakah di antara harga, produk, dan promosi yang
mempunyai pengaruh dominan terhadap volume penjualan sepeda motor honda pada
dealer honda Panji Perkasa Perdana Motor.
METODE PENELITIAN
Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini penulis tidak menggunakan sampel, karena obyek yang di
teliti
hanya dari satu perusahaan dan data yang digunakan adalah berupa data
sekunder yang di
peroleh dari catatan-catatan dari dealer sepeda motor honda Panji Perkasa
Perdana Motor.
Definisi Operasional Variabel
Definisi Operasional Variabel adalah definisi dari variabel yang di teliti
untuk memudahkan cara pengukuran. Dalam hal ini, variabel yang diamati adalh
harga, produk, dan promosi terhadap peningkatan volume penjualan yang di capai
perusahaan.
Adapun variabel yang diamati oleh penulis ialah sebagai berikut :
a. Variabel Bebas
1) Harga (X1)
Harga sebagai variabel bebas pertama (X1) harga yang ditentukan
oleh perusahaan dalam menjual produknya sampai ke tingkat konsumen. Cara
pengukurannya dinyatakan dalam satuan rupiah
2) Produk ( X2)
Produk sebagai variabel yang kedua (X2) suatu bentuk barang yang
di jual oleh perusahaan yang di sesuaikan dengan selera konsumen yang bisa
meningkatkan volume penjualan. Cara pengukurannya dilihat dari total
keseluruhan jumlah harga dari produk yang telah dijual oleh perusahaan kepada
konsumen yang dinyatakan dalam rupiah.
3) Promosi (X3)
Promosi penjualan sebagai variabel bebas ketiga (X3) segala
suatu usaha yang dilakukan oleh penjual atau perusahaan untuk mengenalkan
produknya kepada konsumen dengan maksud untuk meningkatkan volume penjualan.
Cara pengukurannya dilihat dari besarnya biaya promosi yang di keluarkan oleh
perusahaan untuk mengenalkan suatu produknya kepada konsumen yang dinyatakan
dalam satuan rupiah.
b. Variabel Terikat
- Volume Penjualan (Y)
volume penjualan sebagai variabel terikat (Y) jumlah unit produk yang
dijual oleh perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Cara pengukurannya dilihat
dari jumlah produk atau barang yang dijual oleh perusahaan dalam satuan unit.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel harga, produk
dan promosi penjualan secara parsial berpengaruh terhadap variabel volume
penjualan dan variabel harga, produk dan promosi penjualan memiliki nilai
korelasi yang positif dan signifikan terhadap variabel volume penjualan.
JURNAL 2
JUDUL : Analisis
Persepsi Konsumen dan Strategi Pemasaran Beras Analog (Analog rice)
OLEH : Deviany Amanda R, Jono M. Munandar, M.
Syaefudin Andrianto.
LATAR BELAKANG
Tingkat konsumsi beras masyarakat
Indonesia pada 2011 tercatat mencapai 102 kg per kapita per tahun. Angka
konsumsi beras ini paling tinggi dibandingkan tingkat konsumsi di negara lain
seperti Korea 40 kg per kapita per tahun, Jepang 50 kg per kapita per tahun,
Malaysia 80 kg per kapita per tahun dan Thailand 70 kilogram per kapita per tahun.
Rata-rata konsumsi beras dunia hanya 60 kg per kapita per tahun (Tempo 2013).
Dengan tingkat konsumsi beras yang tinggi, ketahanan pangan Indonesia sangat
rawan terutama bila terjadi bencana sehingga produksi beras tidak sesuai
target. Oleh karena itu perlu dilakukan diversifikasi pangan.
Perilaku masyarakat Indonesia
bila belum makan nasi artinya belum makan sulit dirubah sehingga merubahnya
membutuhkan strategi pentahapan. Salah satu strateginya adalah membuat beras
tiruan dengan bahan selain dari padi (artificial rice). Konsumen masih
menyimpan, mengolah dan memakan dalam bentuk beras tetapi bahan bakunya bukan
dari padi. F-Technopark sebagai salah satu pusat penelitian di Institut
Pertanian Bogor (IPB) telah mengembangkan invensi beras dengan bahan selain
dari padi yang disebut dengan Beras Analog. Beras ini telah diujicoba dan
sedang dikembangkan dalam skala pilot plant untuk dikembangkan lebih
lanjut dalam skala industri. Manfaat beras ini dalam jangka panjang untuk
mendiversifikasi makanan pokok. Beras ini sudah ada pada tahun 1969-an dengan
nama beras TEKAD (keTelo, Kacang dan Djagung) tetapi gagal berkembang
(Andrianto et al.,2013). Persepsi konsumen terhadap beras analog perlu
dikaji agar beras analog sukses dipasarkan.
Beras analog
IPB adalah beras buatan yang dibuat dari berbagai tepung lokal (umbi-umbian,
serealia, sagu) dengan menggunakan teknologi ekstrusi panas. Beras Analog
dikembangkan oleh F-Technopark Fakultas Teknologi Pertanian IPB sebagai pangan
alternatif yang sehat dan aman serta memiliki sifat fisik dan fungsional
menyerupai beras konvensional. Dari segi kandungan gizi, selain sama-sama
merupakan sumber karbohidrat, Beras Analog terbukti lebih sehat karena memiliki
Indeks Glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras konvensional. Dengan
karakteristik produk yang memiliki bentuk butiran menyerupai beras dan
dikonsumsi layaknya nasi serta mempunyai komposisi gizi sesuai kebutuhan, Beras
Analog mempunyai prospek yang sangat baik sebagai produk substansi beras
konvensional yang mendukung program diversifikasi pangan (Budijanto 2012).
TUJUAN
Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk menyusun strategi pemasaran Analog Beras melalui
identifikasi segmentasi, targetting dan positioning berdasarkan
persepsi konsumen.
METODE PENELITIAN
Metode
analisis yang digunakan adalah analisis crosstabs, analisis klaster dan
analisis biplot dengan sampel responden adalah 73 orang. Dari hasil crosstabs
menunjukkan bahwa karakteristik konsumen (umur, status perkawinan, pendidikan,
pendapatan dan pengeluaran bulan), berhubungan dengan kesan dan minat untuk
melakukan pembelian ulang. Analisis Cluster memberikan empat segmen pasar
dengan segmen pasar ke 3 yaitu berusia 31-40 tahun, menikah dengan tingkat
pendaptan Rp 4.500.001-Rp 6.000.000. Analisis biplot memberikan positioning
untuk produk Beras Analog, sehingga beras ini menawarkan “manfaat kesehatan”,
“bahan bernutrisi”, dan aman untuk dikonsumsi.
KESIMPULAN
kesimpulan yang dapat diambil
dari penelitian ini adalah berdasarkan karateristik konsumen dapat diketahui
bahwa sebagian besar konsumen berjenis kelamin perempuan dengan kelompok usia
31-40 tahun dan dengan status menikah. Tingkat pendidikan terakhir atau yang
sedang dijalani adalah S1 dengan klasifikasi pekerjaan employee (pegawai),
status pekerjaan sebagai pegawai swasta, dan memiliki profesi sebagai ibu rumah
tangga dengan rata-rata pendapatan per bulannya Rp 4.500.001-Rp 6.000.000.
Adapun rata-rata pengeluaran konsumen per bulan adalah Rp 3.000.000-Rp
4.500.000. Hobi sebagian besar konsumen Beras Analog adalah jalan-jalan.
Berdasarkan
persepsi konsumen diketahui bahwa mayoritas konsumen menyatakan kesan suka
terhadap Beras Analog dengan penilaian suka pada rasa, aroma, teksur dan bentuk
serta penilaian cukup pada warna. Tipe konsumsi yang cocok untuk Beras Analog
adalah sebagai makanan selingan (kuliner). Bahan kemasan yang disukai sebagian
besar konsumen Beras Analog adalah kemasan Standing Pouch dengan ukuran
kemasan 800 gram serta Informasi yang dibutuhkan yang harus tertera pada
kemasan adalah informasi nilai gizi. Lokasi pemasaran yang tepat untuk Beras
Analog kedepannya adalah melalui pasar modern dengan bentuk promosi melalui
iklan di televisi. Kisaran harga per packnya untuk Beras Analog adalah Rp
23.000 per 800 gram. Berdasarkan semua penilaian konsumen, sebagian besar
konsumen berminat untuk mengkonsumsi kembali Beras Analog kedepannya. Pada
hasil tabulasi silang, terdapat hubungan yang signifikan antara kesan dengan
usia, status pernikahan, pendidikan, pendapatan dan pengeluaran serta minat
mengkonsumsi kembali dan tipe konsumsi. Berdasarkan banyaknya jumlah responden
yang menyukai dan berminat untuk mengkonsumsi kembali Beras Analog, maka dapat
disimpulkan persepsi konsumen terhadap produk ini baik.
Berdasarkan
Analisis Cluster dengan menggunakan Hierarki Cluster dapat
diketahui bahwa jumlah segmen yang dapat dibentuk berdasarkan karateristik
demografi konsumen yang signifikan pada hasil tabulasi silang (usia, status
pernikahan, pendidikan, pendapatan dan pengeluaran) dan kesan adalah berjumlah
empat segmen. Profil target pasar yang dipilih adalah yang memiliki persentase
terbesar dan memiliki kesan “suka” sehingga cluster (segmen) yang
terpilih yaitu cluster 3 dengan karateristik konsumen berusia 31-40 tahun,
menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S1,
memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 4.500.001 – Rp
6.000.000. Berdasarkan Analisis Biplot, dapat diketahui bahwa posisi atribut
yang berada pada derajat kepentingan sangat penting adalah atribut manfaat
kesehatan, kandungan nutrisi dan keamanan dikonsumsi sehingga perumusan positioning
yang dapat disusun adalah “Beras Analog merupakan beras alternatif non padi
yang aman dikonsumsi karena mengandung lebih banyak nutrisi dan bermanfaat
untuk kesehatan”