html

3/27/2015

TUGAS2-BAHASA INDONESIA



JURNAL 1
JUDUL  :PENGARUH HARGA, PRODUK, DAN PROMOSI TERHADAP VOLUME PENJUALAN SEPEDA MOTOR HONDA
OLEH    :Rizky Ardiansyah, Winarningsih

REVIEW
LATAR BELAKANG
Pada era globalisasi sekarang, segala sesuatu berjalan dan berkembang dengan pesat. Cepatnya laju pertumbuhan ekonomi dewasa ini diikuti dengan banyaknya perusahaan, hal ini akan mendorong adanya persaingan,terutama bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang sejenis. Akibat adanya persaingan tersebut,baik langsung maupun tidak langsung perusahaan terpengaruh dalam hal memasarkan produk-produk atau barang-barang yang di hasilkan, sehingga tingkat persaingan menunjukan tendensi yang meningkat, karena itu setiap perusahaan dengan berbagai cara berusaha untuk di terima oleh konsumen.
Dengan demikian hal ini mengharuskan para pengusaha untuk selalu mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi dan semaksimal mungkin mencari tehnik-tehnik baru dan cara untuk meningkatkan volume penjualan, karena semakin padatnya persaingan antara sesama perusahaan yang menghasilkan produk-produk sejenis, maka perusahaan dalam memproduksi suatu produk haruslah dapat berusaha untuk menarik dan memberi kepuasan kepada konsumen dengan berbagai cara, sehingga perusahaan dapat mencapai laba yang maksimal serta volume penjualan yang tinggi, yang merupakan tujuan perusahaan.
Pada umumnya setiap perusahaan dalam menjalankan aktifitasnya, selalu berusaha menggunakan potensi yang semaksimal mungkin guna mencapai tujuan yang telah di tetapkan, adanya suatu permasalahan yang di hadapi oleh perusahaan sepeda motor (honda) pada dealer sepeda motor honda Panji Perkasa Perdana Motor adalah mengenai pengaruh harga, produk, dan promosi terhadap peningkatan volume penjualan.

TUJUAN
Tujuan penelitian ini yaitu:
(1) Untuk mengetahui apakah harga, produk dan promosi secara simultan berpengaruh terhadap volume penjualan sepeda motor;
(2) Untuk mengetahui apakah harga, produk dan promosi secara parsial berpengaruh terhadap volume penjualan sepeda motor;
(3) Untuk mengetahui manakah di antara harga, produk, dan promosi yang mempunyai pengaruh dominan terhadap volume penjualan sepeda motor honda pada dealer honda Panji Perkasa Perdana Motor.

METODE PENELITIAN
Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini penulis tidak menggunakan sampel, karena obyek yang di teliti
hanya dari satu perusahaan dan data yang digunakan adalah berupa data sekunder yang di
peroleh dari catatan-catatan dari dealer sepeda motor honda Panji Perkasa Perdana Motor.

Definisi Operasional Variabel
Definisi Operasional Variabel adalah definisi dari variabel yang di teliti untuk memudahkan cara pengukuran. Dalam hal ini, variabel yang diamati adalh harga, produk, dan promosi terhadap peningkatan volume penjualan yang di capai perusahaan.

Adapun variabel yang diamati oleh penulis ialah sebagai berikut :
a. Variabel Bebas
1) Harga (X1)
Harga sebagai variabel bebas pertama (X1) harga yang ditentukan oleh perusahaan dalam menjual produknya sampai ke tingkat konsumen. Cara pengukurannya dinyatakan dalam satuan rupiah
2) Produk ( X2)
Produk sebagai variabel yang kedua (X2) suatu bentuk barang yang di jual oleh perusahaan yang di sesuaikan dengan selera konsumen yang bisa meningkatkan volume penjualan. Cara pengukurannya dilihat dari total keseluruhan jumlah harga dari produk yang telah dijual oleh perusahaan kepada konsumen yang dinyatakan dalam rupiah.
3) Promosi (X3)
Promosi penjualan sebagai variabel bebas ketiga (X3) segala suatu usaha yang dilakukan oleh penjual atau perusahaan untuk mengenalkan produknya kepada konsumen dengan maksud untuk meningkatkan volume penjualan. Cara pengukurannya dilihat dari besarnya biaya promosi yang di keluarkan oleh perusahaan untuk mengenalkan suatu produknya kepada konsumen yang dinyatakan dalam satuan rupiah.

b. Variabel Terikat
- Volume Penjualan (Y)
volume penjualan sebagai variabel terikat (Y) jumlah unit produk yang dijual oleh perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Cara pengukurannya dilihat dari jumlah produk atau barang yang dijual oleh perusahaan dalam satuan unit.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel harga, produk dan promosi penjualan secara parsial berpengaruh terhadap variabel volume penjualan dan variabel harga, produk dan promosi penjualan memiliki nilai korelasi yang positif dan signifikan terhadap variabel volume penjualan.

JURNAL 2
JUDUL   : Analisis Persepsi Konsumen dan Strategi Pemasaran Beras Analog (Analog rice)
OLEH     : Deviany Amanda R, Jono M. Munandar, M. Syaefudin Andrianto.

LATAR BELAKANG
Tingkat konsumsi beras masyarakat Indonesia pada 2011 tercatat mencapai 102 kg per kapita per tahun. Angka konsumsi beras ini paling tinggi dibandingkan tingkat konsumsi di negara lain seperti Korea 40 kg per kapita per tahun, Jepang 50 kg per kapita per tahun, Malaysia 80 kg per kapita per tahun dan Thailand 70 kilogram per kapita per tahun. Rata-rata konsumsi beras dunia hanya 60 kg per kapita per tahun (Tempo 2013). Dengan tingkat konsumsi beras yang tinggi, ketahanan pangan Indonesia sangat rawan terutama bila terjadi bencana sehingga produksi beras tidak sesuai target. Oleh karena itu perlu dilakukan diversifikasi pangan.
Perilaku masyarakat Indonesia bila belum makan nasi artinya belum makan sulit dirubah sehingga merubahnya membutuhkan strategi pentahapan. Salah satu strateginya adalah membuat beras tiruan dengan bahan selain dari padi (artificial rice). Konsumen masih menyimpan, mengolah dan memakan dalam bentuk beras tetapi bahan bakunya bukan dari padi. F-Technopark sebagai salah satu pusat penelitian di Institut Pertanian Bogor (IPB) telah mengembangkan invensi beras dengan bahan selain dari padi yang disebut dengan Beras Analog. Beras ini telah diujicoba dan sedang dikembangkan dalam skala pilot plant untuk dikembangkan lebih lanjut dalam skala industri. Manfaat beras ini dalam jangka panjang untuk mendiversifikasi makanan pokok. Beras ini sudah ada pada tahun 1969-an dengan nama beras TEKAD (keTelo, Kacang dan Djagung) tetapi gagal berkembang (Andrianto et al.,2013). Persepsi konsumen terhadap beras analog perlu dikaji agar beras analog sukses dipasarkan.
Beras analog IPB adalah beras buatan yang dibuat dari berbagai tepung lokal (umbi-umbian, serealia, sagu) dengan menggunakan teknologi ekstrusi panas. Beras Analog dikembangkan oleh F-Technopark Fakultas Teknologi Pertanian IPB sebagai pangan alternatif yang sehat dan aman serta memiliki sifat fisik dan fungsional menyerupai beras konvensional. Dari segi kandungan gizi, selain sama-sama merupakan sumber karbohidrat, Beras Analog terbukti lebih sehat karena memiliki Indeks Glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras konvensional. Dengan karakteristik produk yang memiliki bentuk butiran menyerupai beras dan dikonsumsi layaknya nasi serta mempunyai komposisi gizi sesuai kebutuhan, Beras Analog mempunyai prospek yang sangat baik sebagai produk substansi beras konvensional yang mendukung program diversifikasi pangan (Budijanto 2012).

TUJUAN
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun strategi pemasaran Analog Beras melalui identifikasi segmentasi, targetting dan positioning berdasarkan persepsi konsumen.

METODE PENELITIAN
Metode analisis yang digunakan adalah analisis crosstabs, analisis klaster dan analisis biplot dengan sampel responden adalah 73 orang. Dari hasil crosstabs menunjukkan bahwa karakteristik konsumen (umur, status perkawinan, pendidikan, pendapatan dan pengeluaran bulan), berhubungan dengan kesan dan minat untuk melakukan pembelian ulang. Analisis Cluster memberikan empat segmen pasar dengan segmen pasar ke 3 yaitu berusia 31-40 tahun, menikah dengan tingkat pendaptan Rp 4.500.001-Rp 6.000.000. Analisis biplot memberikan positioning untuk produk Beras Analog, sehingga beras ini menawarkan “manfaat kesehatan”, “bahan bernutrisi”, dan aman untuk dikonsumsi.

KESIMPULAN
kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah berdasarkan karateristik konsumen dapat diketahui bahwa sebagian besar konsumen berjenis kelamin perempuan dengan kelompok usia 31-40 tahun dan dengan status menikah. Tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani adalah S1 dengan klasifikasi pekerjaan employee (pegawai), status pekerjaan sebagai pegawai swasta, dan memiliki profesi sebagai ibu rumah tangga dengan rata-rata pendapatan per bulannya Rp 4.500.001-Rp 6.000.000. Adapun rata-rata pengeluaran konsumen per bulan adalah Rp 3.000.000-Rp 4.500.000. Hobi sebagian besar konsumen Beras Analog adalah jalan-jalan.
Berdasarkan persepsi konsumen diketahui bahwa mayoritas konsumen menyatakan kesan suka terhadap Beras Analog dengan penilaian suka pada rasa, aroma, teksur dan bentuk serta penilaian cukup pada warna. Tipe konsumsi yang cocok untuk Beras Analog adalah sebagai makanan selingan (kuliner). Bahan kemasan yang disukai sebagian besar konsumen Beras Analog adalah kemasan Standing Pouch dengan ukuran kemasan 800 gram serta Informasi yang dibutuhkan yang harus tertera pada kemasan adalah informasi nilai gizi. Lokasi pemasaran yang tepat untuk Beras Analog kedepannya adalah melalui pasar modern dengan bentuk promosi melalui iklan di televisi. Kisaran harga per packnya untuk Beras Analog adalah Rp 23.000 per 800 gram. Berdasarkan semua penilaian konsumen, sebagian besar konsumen berminat untuk mengkonsumsi kembali Beras Analog kedepannya. Pada hasil tabulasi silang, terdapat hubungan yang signifikan antara kesan dengan usia, status pernikahan, pendidikan, pendapatan dan pengeluaran serta minat mengkonsumsi kembali dan tipe konsumsi. Berdasarkan banyaknya jumlah responden yang menyukai dan berminat untuk mengkonsumsi kembali Beras Analog, maka dapat disimpulkan persepsi konsumen terhadap produk ini baik.
Berdasarkan Analisis Cluster dengan menggunakan Hierarki Cluster dapat diketahui bahwa jumlah segmen yang dapat dibentuk berdasarkan karateristik demografi konsumen yang signifikan pada hasil tabulasi silang (usia, status pernikahan, pendidikan, pendapatan dan pengeluaran) dan kesan adalah berjumlah empat segmen. Profil target pasar yang dipilih adalah yang memiliki persentase terbesar dan memiliki kesan “suka” sehingga cluster (segmen) yang terpilih yaitu cluster 3 dengan karateristik konsumen berusia 31-40 tahun, menikah, tingkat pendidikan terakhir atau yang sedang dijalani yaitu S1, memiliki rata-rata pendapatan dan pengeluaran per bulan Rp 4.500.001 – Rp 6.000.000. Berdasarkan Analisis Biplot, dapat diketahui bahwa posisi atribut yang berada pada derajat kepentingan sangat penting adalah atribut manfaat kesehatan, kandungan nutrisi dan keamanan dikonsumsi sehingga perumusan positioning yang dapat disusun adalah “Beras Analog merupakan beras alternatif non padi yang aman dikonsumsi karena mengandung lebih banyak nutrisi dan bermanfaat untuk kesehatan”

No comments:

Post a Comment